Selayang Pandang PGSDT sejak 1969 - 2026
· pengumuman
Konten Berita
Sebagai upaya merawat ingatan kolektif dan memperkokoh rasa eling ring kawitan (ingat pada asal-usul), pasemetonan Para Gotra Sentana Dalam Tarukan (PGSDT) meluncurkan tayangan dokumenter bertajuk "Selayang Pandang PGSDT". Dokumentasi bernilai sejarah tinggi ini merangkum dinamika organisasi, perjalanan spiritual, hingga pembangunan fisik yang telah bergulir sejak awal perintisan wadah pasemetonan.
Melalui penuturan langsung para penglingsir dan tokoh saksi sejarah, terekam jelas bagaimana organisasi ini terus bertumbuh tanpa kehilangan jati diri dan akar budayanya di tengah gerak maju zaman.
Akar Pergerakan dan Tonggak Berdirinya PGSDT
Jejak organisasi ini sejatinya telah bersemi sejak era 1950-an. Berawal dari ikatan kekeluargaan warga Pulesari dan Karangasem yang digagas oleh para tokoh pendahulu, persatuan ini murni bergerak untuk merajut tali persaudaraan antar-semeton tanpa adanya muatan politik apa pun.
Pergerakan tulus tersebut akhirnya mengkristal pada tanggal 23 Maret 1969 dengan didirikannya Pakiketan Pesemetonan Para Gotra Sentana Dalam Tarukan (PGSDT) secara resmi. Di bawah kepemimpinan pengurus pertama seperti almarhum Guru Wayan Dangin dan jajaran penglingsir lainnya, wadah ini disepakati berdiri kokoh dengan memegang teguh konsep dasar Padaliang Astit Dharma.
Kemegahan Sejarah Pura Pedarmaan Pusat Pulasari
Dokumenter ini juga menegaskan kembali kedudukan luhur Pura Pedarmaan Pusat Para Gotra Sentana Dalam Tarukan yang berlokasi di Wetanininggiri Panide. Situs suci bersejarah ini didirikan pada tahun 1399 masehi oleh tujuh putra Ida Betara Dalam Tarukan, di antaranya Dewa Bagus Dharmo, Gusti Gede Pulasari, Gusti Sekar, Gusti Gede Bandem, Gusti Gede Balangan, Belayu, dan Gusti Gede Dangin.
Seiring berjalannya waktu, Pura Pedarmaan Pusat terus dirawat dan diempon bersama oleh masyarakat pekandel bersama pengurus PGSDT. Berbagai upacara yadnya agung pun tercatat telah digelar di pura pusat ini, mulai dari Karya Ngenteg Linggih Padudusan Agung pada September 1973, dilanjutkan dengan upacara besar pada tahun 1996, hingga puncaknya pada 10 Oktober 2007 saat dilaksanakan Karya Agung Pemungkah dan Taur Balik Sumpah setelah dilakukannya pemugaran pelinggih secara total.
Jejak Spiritual dan Perjuangan Akses Pura Puri Tarukan Pejeng
Salah satu bagian yang paling menyentuh dalam dokumenter ini adalah penuturan mengenai penelusuran situs Pura Puri di Tarukan Pejeng, Gianyar. Kisah-kisah spiritual yang melatarbelakangi pencarian tempat suci ini diwarnai oleh berbagai peristiwa di luar nalar masyarakat, salah satunya pengalaman mistis kendaraan para penglingsir yang tiba-tiba mogok tepat di pengkolan jalan masuk menuju areal tarukan. Peristiwa tersebut diyakini sebagai taksu dan petunjuk gaib keberadaan situs suci luhur Jero Agung.
Tidak hanya urusan spiritual, sejarah pembebasan lahan untuk akses jalan masuk menuju Pura Puri Tarukan Pejeng pada awal tahun 2000-an juga diceritakan penuh perjuangan. Melalui pendekatan kekeluargaan, gotong royong swadaya dari semeton, hingga adanya dukungan pengaspalan hotmix dari Pemerintah Daerah Gianyar, akses jalan yang representatif akhirnya dapat terwujud seperti yang dinikmati semeton saat ini.
Melalui tayangan Selayang Pandang ini, seluruh wareh (keturunan) Ida Betara Dalam Tarukan di mana pun berada diharapkan dapat terus memupuk rasa persatuan, meningkatkan bakti kepada leluhur (Dharma Agama), serta selalu guyub menjaga keharmonisan pesemetonan.