Rekam Jejak Sejarah Mahasaba, Gagasan Dana Abadi PGSDT, dan Asal-usul Berdirinya Balapraja
· pengumuman
Konten Berita
Perjalanan panjang organisasi persaudaraan Para Gotra Sentana Dalam Tarukan (PGSDT) kembali direfleksikan secara mendalam oleh para tokoh adat dan sesepuh pasemetonan. Dalam sebuah pemaparan sejarah yang dirilis baru-baru ini, terungkap perjalanan dinamis kepengurusan pusat, program strategis berbasis ekonomi umat, serta sejarah awal mula terbentuknya satuan pertahanan adat, Balapraja.
Evolusi Kepengurusan dan Semangat Gotong Royong
Sesepuh sekaligus Ketua Panglingsir PGSDT, Guru Nyoman Gunawan, menceritakan kembali bagaimana pondasi organisasi dibangun sejak era perintisan oleh Guru Wayan Dangin (1969) hingga memasuki babak baru pada Mahasabah II tahun 1998 yang menunjuk almarhum Guru Wayan Waya sebagai Ketua Umum.
Dinamika pengabdian di masa lalu dipenuhi rasa tulus ikhlas (ngayah). Mantan bendahara pusat mengisahkan bagaimana perjuangan menjaga akuntabilitas keuangan pura, di mana uang sesari banten yang basah akibat diguyur hujan harus dijemur dan disetrika terlebih dahulu di tengah malam agar bisa disetorkan ke bank keesokan harinya.
Melalui pola komunikasi yang transparan, pengurus terdahulu sukses menerapkan sistem gotong royong terukur, seperti pembagian pembuatan Rencana Anggaran Biaya (RAB) per-pelinggih kepada semeton di seluruh Bali, sehingga perluasan dan pemugaran Pura Pedarmaan Pusat di Pulasari berhasil dituntaskan dengan cepat.
Terobosan Baru: Program Dana Abadi untuk Kesejahteraan Semeton
Memasuki usia ke-57, PGSDT kini melakukan lompatan paradigma. Organisasi tidak lagi hanya berfokus pada pembangunan fisik pelinggih, melainkan mulai menyasar pada program kemanusiaan dan kesejahteraan sosial semeton yang kurang beruntung.
Guna mewujudkan hal tersebut, pengurus tengah menggalang pembentukan Dana Abadi dengan target awal sebesar Rp5 Miliar. Dana ini nantinya dihimpun dari sisa sesari upacara setelah dikurangi biaya operasional pujowali serta punia sukarela para semeton.
Salah satu keberhasilan nyata yang telah berjalan adalah program Koperasi Berbasis Dadie di wilayah Bandung. Melalui iuran awal Rp500.000 per-dadia, koperasi ini berhasil memutar modal hingga mencapai Rp52 Juta per-dadia dan menghasilkan laba tahunan berkisar Rp15 Juta. Dana keuntungan tersebut kini sukses meringankan beban biaya odalan di masing-masing dadia dan rencananya akan ditularkan ke seluruh kabupaten di Bali.
Sejarah Lahirnya Balapraja Kesatria Kampuh Poleng Tanpa Tepi
Hal yang tak kalah bersejarah adalah pemaparan mengenai asal-usul terbentuknya Balapraja. Berawal dari keprihatinan pribadi semeton saat pelaksanaan upacara Ida Betara Turun Kabeh di Pura Besakih, di mana identitas barisan pengabih wareh Dalam Tarukan belum terlihat jelas di antara pecalang lainnya.
Gagasan ini kemudian dirangkum dan dirumuskan bersama oleh tiga tokoh pemrakarsa utama: Guru Nyoman Gunawan, Guru Nyoman Eka Samar Putra, dan Jero Gede Kompiang. Melalui kesepakatan bersama, lahirlah nama Balapraja Kesatria Kampuh Poleng Tanpa Tepi.
Barisan ini secara resmi dikukuhkan melalui upacara Mejaya-jaya di Pura Pedarmaan Pusat Pulasari pada tanggal 5 Juli 2020. Hingga tahun 2026 ini, jumlah anggota Balapraja telah berkembang pesat mencapai 987 personel di seluruh Bali . Satuan ini mengemban tugas utama ngayah secara tulus di tiga pura pundakan utama, yakni Pura Pedarmaan Pusat Pulasari, Pura Puri Agung Dalam Tarukan Pejeng, dan Pura Pedarmaan Besakih.
Ketua Umum PGSDT Pusat Masa Bakti 2023–2028, Guru Wayan Carte, dalam sambutannya menyambut baik bertumbuhnya Balapraja di seluruh kabupaten/kota se-Bali. Beliau mengajak seluruh semeton untuk merapatkan barisan, merangkul satu sama lain, dan mengutamakan semangat persatuan demi kejayaan pesemetonan ke depan